“Ngalogat” Adalah Kunci

KABARPESANTREN.ID—Jika di pesantren-pesantren Jawa, baik Jawa Timur ataupun Jawa Tengah, ada istilah maknani atau ma’nai, di pesantren-pesantren di tatar Sunda, ada istilah ngalogat. Artinya sama, memaknai kitab kuning dengan teknis khusus, melalui penempatan instrumen simbol pada lafaz berbahasa Arab. Tujuannya, untuk mendeteksi status i’rab, jabatan kata dalam struktur kalimat, yang secara langsung berimplikasi pada makna.

Terlepas apakah sebuah pesantren berstatus modern ataukah salafiyah, tradisi ngalogat masih dipertahankan. Bukan hanya karena merupakan ciri khas pesantren dalam pembelajaran dan pengajian kitab kuning, tetapi metode memaknai kitab kuning dengan cara demikian masih dinilai efektif dan relevan. Sekalipun bermunculan metodologi baru, ngalogat sebagai peninggalan ulama terdahulu, harus lestari dan terjaga: Al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah.

Bacaan Lainnya

Ngalogat dinilai efektif dalam membantu santri memahami makna teks berbahasa Arab dalam kitab kuning—amat memungkinkan dalam jenis literatur bahasa Arab lainnya. Dalam prosesnya, ngalogat berarti mengombinasikan kecermatan menyimpan simbol yang menunjukkan status i’rab dengan kecakapan membaca simbol tersebut untuk sampai pada pemahaman makna yang tepat. Senada dengan ungkapan Syekh al-Baijuri, “Laula al-‘irab lam yufham al-murad—andai tanpa i’rab niscaya makna yang dikehendaki tidak bisa dipahami.”

Apabila seorang santri sudah memiliki kecermatan menyimpan simbol logat pada lafaz tertentu, dapat disimpulkan bahwa santri tersebut telah memahami status i’rab dalam perspektif ilmu nahwu. Selanjutnya, jika seorang santri benar-benar paham tentang ilmu nahwu, mudah baginya untuk membaca kitab kuning yang notabene tak berharakat. Dari kecakapan membaca itulah, makna kalimat dapat ditemukan, dimengerti dan terpahami.

Semisal, penempatan simbol mim sebagai mubtada` pada satu lafaz yang menjadi awal dari sebuah kalimat. Jika saja keliru menyimpan simbol tersebut—pada lafaz yang statusnya bukan mubtada`, pemahaman terhadap teks akan menjadi absurd. Termasuk dalam hal memahami mubtada` yang berada di awal atau justru diakhirkan. Dalam hal ini, kecermatan menempatkan simbol logat, amat menentukan dan urgen.

Selanjutnya, kecermatan menempatkan simbol secara tepat menjadi tersempurnakan dengan kecakapan membaca simbol tersebut. Ada sentuhan estetik termahal yang terjadi pada proses pembacaan sebuah naskah berbahasa Arab ini. Bahkan di Timur Tengah yang notabene rahim bagi bahasa Arab, teknis demikian tidak pernah ada. Ngalogat sangat khas Indonesia, khususnya di Sunda dan Jawa.

Semisal, untuk memulai sebuah subbahasan, ada mubtada` yang tidak terlihat, tetapi dibaca dan tetap bersanding dengan khabar yang tampak secara lafaz. Posisi mubtada` dihadirkan dalam proses pembacaan teks, sekalipun secara lafaz tak mewujud nyata mendampingi khabar yang seakan-akan berdiri sendiri. Fashlun: Adapun ini itu satu pasal. Frasa adapun ini adalah mubtada` yang dilekatkan pada isim isyarah berbentuk hadza yang tidak tampak. Sementara itu adalah khabar yang tampak pada fashlun.

Contoh lainnya, saat membaca khabar yang posisinya berada pada huruf jar, semisal pada fi, dibaca tidak hanya dengan itu di dalam, tetapi dengan menyertakan kata tetap yang merujuk pada makna mustaqirrun atau kainun, dibacanya: Itu tetap di dalam. Komponen bacaan sedemikian inilah yang tidak ditemukan pada pembacaan teks bahasa lain selain bahasa Arab dan uniknya hanya di Indonesia saja.

Masih banyak contoh pembacaan simbol dalam hal ngalogat yang tentu akan tetap relevan dengan proses membaca dan memahami kitab kuning. Sederas apa pun metodologi baru yang dimunculkan oleh para pakar, tetap saja ngalogat adalah ruh yang tanpanya metodologi baca apa pun sulit hidup. Karenanya, untuk santri-santri di pesantren—modern atau salafiyahngalogat adalah kunci! Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.[]

 

 

Penulis: Kiki Musthafa
Editor: Kiai Asep Zainy Arief