Inilah Tiga Tugas Kiai dalam al-Qur`an

Foto: kabarpesantren.id

KABARPESANTREN.ID—Term ulama identik dengan kiai, yakni seorang sepuh yang alim dalam ilmu agama. Ia memiliki pesantren dan santri. Berdedikasi penuh dalam membimbing umat.

Al-Qur`an mencatat, setidaknya, tiga hal tentang tugas kiai. Tugas tersebut merujuk pada tugas kenabian. Kiai mewarisi tugas-tugas itu secara langsung. Tidak boleh tidak karena ia adalah waratsah al-anbiya, pewaris para nabi.

Bacaan Lainnya

Pertama, tabligh dalam QS. al-Maidah ayat 67: Ya ayyuha al-Rasulu balligh ma unzila ilaika min Rabbika—wahai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.

Kiai harus menyampaikan perintah, larangan, ajaran dan semua tentang intisari al-Qur`an kepada umat. Wajib baginya menyampaikan yang benar sebagai sebuah kebenaran dan yang salah sebagai sebuah kesalahan.

Kedua, tabyin dalam QS. al-Nahl ayat 44: Wa anzalna ilaika al-dzikra litubayyina li al-nasi ma nuzzila ilaihim—dan Kami turunkan kepadamu al-Qur`an agar kamu menjelaskan kepada manusia perihal apa yang diturunkan kepada mereka.

Bukan hal mudah, tetapi kiai wajib menjelaskan kepada umat tentang isi al-Qur`an. Jika umat tidak paham dan tidak mengerti, ia wajib memberikan pengajaran. Mendidik umat tanpa batas waktu.

Ketiga, tahkim dalam QS. al-Baqarah ayat 213: Wa anzala ma’ahum al-kitaba bi al-haqqi liyahkuma baina al-nasi fima ikhtalafu fih—dan Allah bersama mereka al-Kitab (al-Qur`an) dengan benar agar dapat memutuskan perkara yang diperselisihkan oleh manusia (umat).

Kiai harus tegas dan memiliki prinsip yang kokoh dalam menyelesaikan persoalan umat. Tidak boleh terbeli dan pantang untuk terjual. Sekali berpegang pada al-Qur`an, selamanya tidak tergantikan.

Sebagai pemimpin umat, kiai harus cakap mengeksekusi tiga tugas tersebut. Selain alim dalam ilmu agama, ia harus punya standar etik dan moral yang luhur sebagai contoh ideal bagi umat. (KPN/Kiki Musthafa)

 

Penulis: Kiki Musthafa